Sabtu, 09 April 2011

PERBANDINGAN PERHITUNGAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN CAMELS DAN CAMEL PT. BANK LIPPO, TBK PERIODE TAHUN 2004 – 2006.



Perhitungan / Analisis Faktor Komponen Rentabilitas ( Earning )
Analisis terhadap factor komponen kualitas Aset pada Bank Lippo dilakukan berdasarkan Laporan Neraca bank periode triwulan dari Maret hingga Desember pada tahun 2004-2006, beserta informasi lainnya yang terkait dengan factor komponen kualitas asset ini.
Pada aspek Rentabilitas ini rasio (criteria Kuantitif) yang digunakan adalah :
1. Return On Asset (ROA)
2. Return On Equity (ROE)
3. Net Interest Margin (NIM)
4. Beban Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Opersional (BOPO)
  

* Apabila rasio Return On Asset (ROA) semakin kecil ini mengindikasikan kurangnya kemampuan bank baik dalam mengelola struktur aktiva maupun meningkatkan pendapatan dan efisiensi menekankan biaya yang mempengaruhi modal bank.
Perkembangan ROA pada Bank Lippo (2004-2006)
Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa pada periode triwulan maret ke juni di tahun 2004 rasio ROA menurun cukup tajam dari 3.33% ke 0.80 %, namun di periode selanjutnya rasio meningkat hingga mencapai di atas 1.25 %. Oleh karena itu rasio ROA untuk Bank Lippo pada periode triwulan tahun 2004-2006 diberi nilai peringkat 2(dua) yang mengindikasikan bahwa perolehan laba Bank Lippo tinggi.
*Return On Equity (ROE)
Semakin besar rasio ini mengindikasikan bahwa kemampuan modal dalam menghasilkan laba bagi pemegang saham semakin baik. dapat dilihat bahwa perkembangan rasio ROE pada Bank Lippo cenderung stabil dan masih dinilai sangat tinggi karena diatas 12,5 % walaupun pada awal triwulan tahun 2004 rasio menurun cukup tajam dari 104.48% ke 25.83%. Dengan demikian maka nilai peringkat untuk komponen ini adalah peringkat 1 (satu )
*Grafik Perkembangan NIM pada Bank Lippo(2004-2006)
Dari Gambar 4.10 diatas dapat dilihat bahwa perkembangan rasio NIM Bank Lippo selama periode triwulan tahun 2004-2006 mengalami peningkatan dan cenderung naik. Penilaian
terhadap komponen ini diberi nilai peringkat 1 (satu) karena Bank mampu menghasilkan marjin bunga bersih yang sangat tinggi (> 3%) yang merupakan sumber pendapatan utama perbankan
*Rasio BOPO yang semakin besar mengindikasikan kurangnya kemampuan bank dalam menentukan biaya operasional serta dalam meningkatkan pendapatan operasionalnya, yang akan menimbulkan kerugian karena bank dinilai kurang efisien dalam mengelola usahanya. bahwa Bank Lippo pada periode triwulan tahun 2004-2006 memiliki rasio berkisar antara 70 % sampai dengan 80%, Hal ini mengindikasikan Bank memiliki tingkat efisiensi yang baik, Bank masih mampu mengontrol baik biaya operasional maupun pendapatan operasionalnya. Oleh karena itu untuk penilaian factor komponen rentabilitas ini mendapat nilai peringkat 2 (dua).

Penilaian akhir faktor komponen rentabilitas
Penilaian akhir terhadap faktor ini dilakukan dengan mengkombinasikan hasil yang telah di dapat dari masing – masing komponen (kuantitatif dan kualitatif) faktor permodalan ini. Namun karena pembatasan masalah dalam penelitian ini dibatasi hanya menganalisis rasio keuangan saja , maka yang dinilai hanya komponen kuantitatif saja (penilaian berdasarkan rasio perhitungan).
Hasil yang didapat secara garis besar untuk kriteria kuantitatif selama periode triwulan tahun 2004-2006 adalah nilai peringkat 2 (dua). Jadi penilaian akhir untuk peringkat Faktor Rentabilitas ( Earnings ) mendapat nilai peringkat 2 (dua) yang mengindikasikan “ Secara umum kinerja rentabilitas baik. Kemampuan rentabilitas tinggi untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal”.
Analisis Faktor Komponen Likuiditas ( Liquidity )
 
Analisis terhadap faktor komponen kualitas Aset pada Bank Lippo dilakukan berdasarkan Laporan Neraca bank periode triwulan dari Maret hingga Desember pada tahun 2004-2006, beserta informasi lainnya yang terkait dengan faktor komponen kualitas asset ini.
Pada Aspek Likuiditas ini rasio (kriteria Kuantitatif) yang digunakan adalah :
1. AL < 1 bulan dibandingkan dengan PL < 1 bulan
2. 1 Month Maturity Mismatch
3. Loan To Deposit Ratio (LDR)
4. Proyeksi Cash flow 3 bulan mendatang

dapat dilihat bahwa persentase perbandingan antara : 
*aktiva liquid dan pasiva liquid Bank Lippo selama periode triwulan tahun 2004-2006 mengalami fluktuasi dan cenderung meningkat, rasio yang dihasilkan berkisar antara 25% sampai dengan 45%, sehingga dapat disimpulkan nilai peringkat untuk komponen Perbandingan Aktiva Liquid dengan Pasiva Liquid adalah peringkat 2 (dua) yang mengindikasikan bahwa Aktiva dan Pasiva Bank Lippo liquid.
*Month Maturity Mismatch Ratio
Tujuan penilaian ini adalah untuk menilai kinerja assets and liabilities management/ALMA dalam mengelola asset dan kewajibannya dilakukan dengan memonitor ada tidaknya mismatch terhadap asset dan kewajiban bank.
dapat dilihat bahwa selama periode triwulanan tahun 2004-2006 Bank Lippo mengalami mismatch, grafik menunjukan rasio mengalami kecenderungan terus menurun dan bernilai rendah walaupun di awal triwulan tahun 2005 rasio mengalami
37
peningkatan yang cukup tinggi dari 14,24 % sampai dengan 42,73 %, tapi secara keseluruhan dapat di ambil kesimpulan bahwa Bank Lippo memiliki rasio 1 month Maturity Mismatch yang semakin membaik. Oleh karena itu penilaian untuk komponen factor likuiditas ini mendapat nilai peringkat 2 (dua)
*Loan to Deposito Ratio (LDR)
Tujuan penilaian komponen ini adalah untuk mengetahui besarnya kredit yang diberikan yang dibiayai oleh dana pihak ketiga. dapat dilihat bahwa rasio LDR Bank Lippo cenderung mengalami peningkatan, namun rasio LDR masih berkisar di bawah 50%. Oleh karena itu untuk komponen ini dapat disimpulkan mendapat nilai peringkat 1 (satu).
*Proyeksi Cash Flow 3 bulan mendatang
Penilaian komponen ini dilakukan untuk mengukur kemampuan bank dalam pengelolaan cash in dan cash out guna pengelolaan likuiditas bank.
Proyeksi arus kas ini dilakukan dengan melihat arus kas tiga bulan kedepan. bahwa dalam periode Triwulan tahun 2004-2006 Bank Lippo mengalami fluktuasi rasio Proyeksi cash flow yang tidak stabil. Cash flow Bank Lippo mengalami arus kas negative, ini dialami di periode Triwulan I-triwulan II (Tahun 2004),

Triwulan I,II,III (Tahun 2006), dan melonjak di periode tahun 2005 sekalipun arus kas tidak negative tetapi rasionya sangat tinggi berada di atas 3%. Dari penilaian di atas maka penilaian untuk peringkat komponen faktor likuiditas ini, saya simpulkan mendapat peringkat 5 (lima) yang mengindikasikan bahwa rasio proyeksi Cash Flow Bank Lippo sangat buruk atau negative.

Penilaian akhir Faktor Likuiditas
 
Penilaian terhadap factor likuiditas dilakukan dengan mengkombinasikan hasil yang telah didapat dari masing-masing komponen factor likuiditas ini. Hasil yang didapat secara garis besar untuk criteria kuantitatif selama periode triwulan tahun 2004-2006 adalah nilai peringkat 2(dua). Oleh karena itu Penilaian akhir untuk factor Likuiditas ini , saya simpulkan mendapat peringkat 3(tiga) yang mengindikasikan bahwa secara umum kinerja likuiditas Bank Lippo cukup baik, kemampuan likuiditas untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas memadai, sekalipun ada 1 komponen yang dinilai tidak baik yaitu komponen proyeksi cash flow.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang didapat mengenai perhitungan indikator kesehatan bank dengan menggunakan CAMELS disimpulkan bahwa Bank Lippo selama periode Triwulan Tahun 2004 – 2006 mendapat peringkat 2 ( sehat ) yang mengindikasikan bahwa bank Lippo adalah bank yang tergolong baik dan mampu mengatasi pengaruh negative kondisi perekonomian dan industri keuangan namun bank masih memiliki kelemahan – kelemahan minor yang dapat segera diatasi oleh tindakan rutin.
Sedangkan hasil analisis yang didapat mengenai penilaian indikator kesehatan bank dengan menggunakan CAMEL, Bank Lippo selama periode Tahun 2004 – 2006 mendapat predikat sehat.
Dari kedua pernyataan diatas, dapat dilihat hasil akhir predikat yang didapat oleh Bank Lippo selama periode tahun 2004 – 2006 sama – sama sehat atau tergolong baik. Namun didalam hasil analisis tingkat kesehatan bank dengan menggunakan Metode CAMELS didapat pernyataan dan analisis yang lebih tajam yaitu bahwa sekalipun Bank Lippo memiliki predikat bank sehat, namun Bank Lippo memiliki kelemahan di bagian Faktor Likuiditas mengenai kemampuan bank dalam mengelola cash in dan cash out guna pengelolaan likuiditas. Kelemahan Bank Lippo di faktor ini tidak terdeteksi dengan menggunakan Metode CAMEL, sehingga dengan demikian dapat terlihat bahwa Metode CAMEL memiliki kelemahan yaitu:
1. Misleading
Ukuran tingkat kesehatan bank yang dikuantifikasikan dengan menggunakan Metode CAMEL cenderung memberikan gambaran yang keliru terhadap kondisi bank yang utuh dan sebenarnya, dan dapat diperburuk lagi bila data laporan bulanan bank yang benar dan akurat tidak tersedia.
2. Historical figure
Penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan Metode CAMEL lebih menggambarkan suatu kondisi bank berdasarkan data historical pada posisi waktu tertentu dan tidak mampu menggambarkan secara jelas risiko yang mungkin dihadapi oleh bank diwaktu yang akan datang.
3. Kelengkapan Rasio Kualitatif
Rasio – rasio yang digunakan dalam penilaian faktor CAMEL belum memadai bila dibandingkan dengan rasio faktor CAMELS sehingga kurang menggambarkan kualitas dari faktor yang dinilai.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Metode CAMELS lebih valid dalam menilai tingkat kesehatan bank karena Metode ini lebih komprehensif.


1 komentar:

  1. teman, jangan lupa ya mencatumkan link Gunadarma http://www.gunadarma.ac.id. Sekarang kan sudah mulai perkuliahan softskill dan Sebagai salah satu penilaian mata kuliah softskill harus mencatumkan link Gunadarma.

    BalasHapus